Nama : Putri Awis Nur Fadilah
NIM : 2130911023
Good Country People
Flannery O'Connor adalah seorang novelist, penulis cerpen dan essay asal Amerika. "Good Country People" adalah cerita pendek karya Flannery O'Connor. Cerpen ini diterbitkan pada tahun 1955 dalam kumpulan cerita pendeknya A Good Man Is Hard to Find. Seorang Katolik Roma yang taat, O'Connor sering menggunakan tema-tema religius dalam karyanya. Banyak yang menganggap ini sebagai salah satu kisah terbesarnya.
Good Country People mengisahkan tentang seorang perempuan yang mempunyai pemikiran klise tentang kehidupan. Hulga atau bisa di sebut juga Joy adalah seorang Atheis, perempuan ini mempunyai gelar Ph.D. di ilmu filsafat. Ia tidak mengetahui apa-apa tentang dunia, ia hanya mendengar kata-kata ibunya yang hampa dan tidak berarti. Ibunya Hulga yaitu Mrs. Hopewell selalu mengatakan kata-kata optimis tapi sebenarnya itu semua tidak berarti, Mrs. Hopewell sendiri percaya dengan kata-kata hampa yang keluar dari mulutnya. Pada suatu hari, tiba-tiba muncul lah seorang laki-laki yang terlihat seperti lelaki yang baik datang ke rumah Mrs. Hopewell.
ALUR (PLOT)
Setelah membaca dan menganalisisnya, alur cerpen ini termasuk sebagai alur campuran, karena di awal cerita di ceritakan secara kronologis tentang awal ceritanya. Lalu di tengah-tengah cerita, mulai terdapat flashback yang akhirnya kembali lagi ke masa sekarang, lalu penulis juga menceritakan lagi kisah flashback itu namun dari sudut pandang tokoh yang berbeda dan setelah flashback itu cerita mulai berjalan lagi ke masa sekarang. Flashback pertama muncul pada bagian tengah cerita, saat Mrs. Hopewell sedang berbincang-bincang bersama Mrs. Freeman mengenai putri dari Mrs. Freeman di dapur. Lalu ia melihat Hulga yang sedang berada di dekat kompor, dan disinilah cerita mundur kembali menceritakan ke waktu dimana saat pertama kali penjual al-kitab atau Manley Pointer muncul. Di flashback ini di ceritakan dari sudut pandang Mrs. Hopewell yang penasaran dengan apa yang Hulga dan Manley Pointer bicarakan, tetapi Mrs. Hopewell juga tidak berani bertanya pada Hulga.
He was a tall gaunt hatless youth who had called yesterday to sell them a Bible." (O'Connor, 1955:6)
“Hill,” Mrs. Hopewell said absently, “is that the one who works in the garage?”... Hulga had cracked her two eggs into a saucer and was bringing them to the table along with a cup of coffee that she had filled too full. She sat down carefully and began to eat, meaning to keep Mrs. Freeman there by questions if for any reason she showed an inclination to leave. She could perceive her mother's eye on her. (O'Connor, 1955:9)
“What’s
your name?” he asked, smiling down on the top of her head.
“Hulga,” she said.
“Hulga,” he murmured, “Hulga. Hulga. I never heard of anybody
name Hulga
before.
You’re shy, aren’t you, Hulga?” he asked.
She nodded, watching his large red hand on the handle of the
giant valise. (O'Connor, 1955:11)
Setelah di ceritakan kembali flashback ini, cerita berlanjut lagi ke masa sekarang yaitu dimana Hulga akhirnya berhasil menyelinap keluar rumah untuk bertemu Manley Pointer tanpa sepengetahuan ibu nya Mrs. Hopewell.
Pada bagian ini, adanya tahap perkenalan baik itu latar atau pun tokoh di dalam cerita. Di dalam cerpen ini, bagian awal cerita di buka oleh tokoh Mr. Freeman yang memiliki dua ekspresi ketika berususan dengan individu lainnya, misalnya saja dengan Mrs. Hopewell yaitu majikannya sendiri.
"BESIDES the neutral expression that she wore when she was alone, Mrs. Freeman
had two others, forward and reverse, that she used for all her human dealings.
Mrs. Hopewell had given it up. She might talk her head off.
Mrs. Freeman could never be brought to admit herself wrong to any point." (O'Connor, 1955:2)
Pada bagian selanjutnya pembaca akan di perkenalkan dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti putri dari Mrs. Hopewell yaitu Hulga dan putri dari Mrs. Freeman yaitu Gylnese dan Carramae. Watak dari para tokoh juga sudah mulai terlihat pada bagian ini, dan latar belakang dari beberapa tokoh nya juga di munculkan pada bagian ini. Selain itu, pembaca akan di suguhkan dengan kehidupan sehari-hari Mrs. Hopewell dan putri nya Hulga, dan juga Mrs. Freeman sebagai seorang pembantu di keluarga tersebut dan alasan mengapa Mrs. Hopewell memperkerjakan Mrs. Freeman adalah karena tidak adanya pelamar lain. Lalu pada bagian ini, pembaca akan di beritahu informasi penting tentang mengapa Hulga bisa kehilangan satu kakinya,
"Mrs. Hopewell excused this attitude because of the leg (which had been shot off in a hunting accident when Joy was ten)." (O'Connor, 1955:4)
Di bagian ini juga, para pembaca akan di berikan informasi mengenai nama dari tokoh utama yaitu Joy yang bisa berubah menjadi Hulga,
"Her name was really Joy but as soon as she was twenty-one and away from home, she had had it legally changed. Mrs. Hopewell was certain that she had thought and thought until she had hit upon the ugliest name in any language. Then she had gone and had the beautiful name, Joy, changed without telling her mother until after she had done it. Her legal name was Hulga." (O'Connor, 1955:4)
2. Inciting moment
Pada bagian ini, sudah mulai terlihat bibit-bibit akan munculnya konflik. Sebenarnya belum di mulai tetapi arah dari bibit-bibit konflik ini akan membawa para pembaca kepada konflik yang akan terjadi. Pada cerpen ini, bibit-bibit konflik muncul pada saat malam hari muncul lah seorang laki-laki ke rumah Mrs. Hopewell. Laki-laki ini tiba-tiba datang ke rumah Mrs. Hopewell dan pura-pura salah mencari orang, tapi akhirnya Mrs. Hopewell memberi tahu namanya dan laki-laki itu mulai berbincang-bincang bersama Mrs. Hopewell sampai akhirnya ia menawarkan al-kitab kepadanya. Pada bagian ini kita akan mengetahui bahwa Hulga adalah seorang atheis.
“Good morning, Mrs. Cedars!” and set the suitcase down on the mat. He was not a bad-looking young man though he had on a bright blue suit and yellow socks that were not pulled up far enough. He had prominent face bones and a streak of sticky-looking brown hair falling across his forehead.
“I'm Mrs. Hopewell,” she said.
“Oh!” he said, pretending to look puzzled but with his eyes sparkling, “I saw it said
―The Cedars' on the mailbox so I thought you was Mrs. Cedars!” (O'Connor, 1955:6)
“I see you have no family Bible in your parlor, I see that is the one lack you got!”
Mrs. Hopewell could not say, “My daughter is an atheist and won't let me keep the
Bible in the parlor.” She said, stiffening slightly, “I keep my Bible by my bedside.” (O'Connor, 1955:7)
Laki-laki penjual Al-kitab ini memperkenalkan dirinya sebagai Manley Pointer dan pada saat Mrs. Hopewell akan memeriksa makanan nya, ia menemukan Hulga yang sudah berada di dekat pintu mendengarkan semua percakapannya dengan Manley Pointer.
“I didn't intraduce myself,” he said. “I'm Manley Pointer from out in the country around Willohobie, not even from a place, just from near a place.”
“You wait a minute,” she said. “I have to see about my dinner.” She went out to the kitchen and found Joy standing near the door where she had been listening. (O'Connor, 1955:7)
tidak berhenti sampai di situ, bibit-bibit konflik juga muncul ketika Mrs. Hopewell sedang berbincang dengan Manley Pointer, lalu Manley Pointer itu menceritakan tentang penyakit jantung nya dan Mrs. Hopewell berfikir bahwa ia mempunyai kondisi yang sama dengan Hulga sehingga membuatnya merasa iba lalu mengundangnya untuk ikut makan malam. Hulga sendiri tidak senang dengan kehadirannya.
"He and Joy had the same condition! She knew that her eyes were filling with tears but she collected herself quickly and murmured,“Won't you stay for dinner? We'd love to have you!” and was sorry the instant she heard herself say it.
Joy had given him one look on being introduced to him and then throughout the meal had not glanced at him again. He had addressed several remarks to her, which she had pretended not to hear. Mrs. Hopewell could not understand deliberate rudeness, although she lived with it, and she felt she had always to overflow with hospitality to make up for Joy's lack of courtesy." (O'Connor, 1955:8)
tetapi sesaat sudah selesai makan malam, Hulga ternyata sudah menunggu nya di luar dan terjadi lah percakapan di antara mereka berdua yang akan mengantarkan para pembaca kepada konflik yang sebenarmya.
3. Rising Action
Pada tahap ini, bibit-bibit konflik tadi mulai meningkat, tetapi belum memasuki puncak konflik. Di dalam cerpen ini terjadi pada saat mereka berdua berkenalan satu sama lain sampai Manley Pointer mengaku bahwa dirinya bisa mati kapan saja dan ditimpali dengan jawaban Hulga yang sama-sama menjawab bahwa ia juga bisa mati kapan saja. Setelah mendengar jawaban Hulga, Manley Pointer merasa bahwa Hulga dan dirinya memiliki kesamaan lalu mulai mengajaknya untuk berkencan, Hulga juga menerima ajakan Manley Pointer untuk kencan bersamanya.
"Couldn't we go on a picnic tomorrow? Say yes, Hulga,” he said and gave her a dying look as if he felt his insides about to drop out of him. He had even seemed to sway slightly toward her." (O'Connor, 1955:10-11)
Lalu pada jam 10 Hulga keluar dari rumah untuk menemui Manley Pointer tanpa di ketahui oleh ibunya. Akhirnya Manley Pointer datang sambil membawa koper kecil berisi al-kitab nya yang membuat Hulga bertanya-tanya, dan Manley Pointer hanya menjawab karena ia tidak akan pernah tahu kapan ia akan membutuhkan pertolongan Tuhan .Setelah percakapan kecil itu, mereka melanjutkan kencan nya dengan memanjat sebuah tanggul yang mengarahkan mereka ke padang rumput menuju hutan.
"She had a moment in which she doubted that this was actually happening and then they began to climb the embankment. They went down into the pasture toward the woods. (O'Connor, 1955:12)
4. Climax
Pada tahap ini, cerita telah memasuki puncak dalam konflik. Di dalam cerpen ini terjadi ketika Hulga yang secara terus terang menyatakan bahwa dirinya tidak percaya tuhan yang membuat Manley Pointer itu terkejut lalu mulai mendekatinya lalu mencium nya. Hulga hanya menerimanya, dia juga baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Setelah melepas ciuman nya, mereka kembali berbincang-bincang. Manley Pointer mulai bertanya pada Hulga dan membuat nya tersenyum untuk pertama kalinya dan Hulga mengatakannya sekali lagi kepada Manley Pointer bahwa dia tidak mempercayai tuhan yang membuat Manley Pointer menatapnya penuh kekaguman seolah-olah binatang fantastis di kebun binatang telah memasukkan cakarnya ke dalam jeruji dan memberinya colekan penuh kasih. Percakapan kecil terjadi sebelum akhirnya Manley Pointer mengajak Hulga untuk pindah mencari tempat dimana mereka bisa duduk, lalu Hulga menyarankan untuk pergi ke sebuah lumbung.
“I don't even believe in God.”
At this he stopped and whistled. “No!” he exclaimed as if he were too astonished to say anything else.
She walked on and in a second he was bouncing at her side, fanning with his hat. “That's very unusual for a girl,” he remarked, watching her out of the corner of his eye. When they reached the edge of the wood, he put his hand on her back again and drew her against him without a word and kissed her heavily. (O'Connor, 1955:12)
“Ain't there somewheres we can sit down sometime?” he murmured, his voice softening toward the end of the sentence.
“In that barn,” she said." (O'Connor, 1955:13)
Mereka harus menaiki tangga untuk sampai di Lumbung. Awalnya Manley Pointer ragu karena melihat keadaan kaki Hulga tetapi malah Hulga yang menaiki tangga nya duluan untuk membuktikan bahwa ia juga bisa memanjat tangganya, lalu di ikitu oleh Manley Pointer yang selanjutnya memanjat tanga, ia memanjat nya sambil membawa koper nya dan membuat Hulga berkata kepadanya bahwa kita tidak membutuhkan al-kitab dan jawaban Manley Pointer tetap sama. Setelah sampai di Lumbung dan duduk, Manley Pointer mulai menciumnya kembali, sampai akhirnya Manley Pointer mulai memaksa Hulga untuk mengatakan bahwa dia mencintainya. Hulga sendiri sangat berhati-hati dengan hal semacam ini. Sebelum Hulga menjawab, ia mengatakan kejujuran tentang umurnya karena pada saat pertama kali bertemu ia berbohong mengenai umurnya, Hulga juga memberitahunya bahwa ia memiliki gelar. Setelah mendengarnya Manley Pointer sedikit kesal tapi ia tidak memedulikannya. Dan setelah beberapa kali mendapat tekanan dari Manley Pointer untuk mengatakan bahwa ia mencintainya, Hulga akhirnya menjawabnya dengan berkata "iya".
"I am thirty years old,” she said. “I have a number of degrees.”
The boy's look was irritated but dogged. “I don't care,” he said. “I don't care a thing about what all you done. I just want to know if you love me or don'tcher?” and he caught her to him and wildly planted her face with kisses until she said, “Yes, yes.” (O'Connor, 1955:14)
Lalu setelah itu, Manley Pointer menyuruh Hulga untuk membuktikan bahwa dia mencintainya. Laki-laki itu menyuruh Hulga untuk melepaskan kaki palsunya untuk membuktikan cintanya, pada awalnya Hulga enggan untuk melepasnya karena kaki palsunya itu adalah bagian dari dirinya tetepi akhirnya lagi-lagi setelah mendapat tekanan dari Manley Pointer ia akhirnya melepaskan nya,
"She took it off for him and put it back on again and then he took it off himself, handling it as tenderly as if it were a real one. “See!” he said with a delighted child‖s face. “Now I can do it myself!” (O'Connor, 1955:15)
Setelah melepaskan kaki palsu nya Hulga meminta Manley Pointer untuk mengembalikan lagi kaki palsunya itu, tetapi bukannya mengembalikan kaki palsunya Manley Pointer malah menciumnya lagi, dan berkata bahwa belum saat nya untuk di kembalikan. Hulga mendorong lelaki itu dan mulai meminta lagi kaki palsu nya untuk di kembalikan, namun Manley Pointer malah membuka koper nya yang ternyata berisikan whiski, setumpuk kartu dan sebuah kotak biru kecil. Ia meletakannya seperti persembahan di kuil kepada dewa lalu Lelaki itu meletakan kotak biru di tangan Hulga yang bertulisakan "PRODUK INI DI GUNAKAN HANYA UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT" setelah membacanya Hulga langsung menjatuhkan nya. Setumpuk kartu yang Manley Pointer bawa juga berisikan gambar-gambar yang tidak senonoh. Selain itu, Manley Pointer juga menawari Hulga untuk minum.
“Wait,” he said. He leaned the other way and pulled the valise toward him and opened it. It had a pale blue spotted lining and there were only two Bibles in it. He took one of these out and opened the cover of it. It was hollow and contained a pocket flask of whiskey, a pack of cards, and a small blue box with printing on it. (O'Connor, 1955:15)
5. Falling Action
Pada tahap ini, konflik yang tadi memuncak sudah mulai mereda. Pada saat Hulga terkejut dan sudah mengetahui kebusukan Manley Pointer. Hulga berkali-kali menginginkan kaki palsu nya kembali namun tidak di gubris oleh lelaki itu, ia malah mendorong kaki palsu nya menjauh dari Hulga. Hulga telah percaya bahwa dia adalah good country people.
Her voice when she spoke had an almost pleading sound. “Aren't you,” she murmured, “aren't you just good country people?”
The boy cocked his head. He looked as if he were just beginning to understand that she might be trying to insult him. “Yeah,” he said, curling his lip slightly, “but it ain‖t held me back none. I‖m as good as you any day in the week.”
“Give me my leg,” she said.
He pushed it farther away with his foot. “Come on now, let's begin to have us a good time,” he said coaxingly. “We ain't got to know one another good yet.” (O'Connor, 1955:15)
6. Denouement
Pada tahap ini, penyelesaian dari konflik yang terjadi sudah mulai terlihat. Hulga berteriak meminta kaki palsu nya kembali bahkan Hulga mencoba menyerang Manley Pointer tetapi dengan mudahnya Manley Pointer menghadang serangan itu dan membuat Hulga terduduk kembali. Lalu Manley Pointer mulai membentak Hulga dan berkata bahwa awalnya Hulga tidak mempercayai apa-apa oleh karena itu dia berfikir bahwa Hulga adalah wanita yang berbeda tapi ternyata sama saja. Hulga telah jatuh ke pengaruh dan buaian palsu dari Manley Pointer.
“What's the matter with you all of a sudden?” he asked, frowning as he screwed
the top on the flask and put it quickly back inside the Bible. “You just a while ago said
you didn't believe in nothing. I thought you was some girl!”(O'Connor, 1955:16)
Hulga juga berpikir bahwa Manley Pointer adalah kristen yang baik tapi Manley Pointer menjawab nya "aku harap kamu tidak berpikir... bahwa saya percaya pada omong kosong itu!" dengan nada bicara yang marah. Manley Pointer mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya bisa membuat Hulga lebih terbuka akan dunia dan tidak melihat dari satu sisi saja.
"I may sell Bibles but I know which end is up and I wasn't born yesterday and I know where I'm going!” (O'Connor, 1955:16)
Lalu Hulga mulai berteriak lagi menginginkan kaki nya tetapi Manley Pointer mulai memasukkan kembali barang-barang nya ke dalam koper dan mulai pergi dengan membawa kaki palsu Hulga. Sebelum benar-benar pergi, Manley Pointer berbalik dan menatap Hulga dengan tatapan yang tidak lagi memiliki kekaguman di dalamnya. Lalu ia mulai berkata bahwa sebelumnya ia juga pernah mendapatkan kacamata seorang wanita dengan cara yang sama, ia juga mulai mengaku bahwa namanya bukan pointer dan dia selalu mengganti namanya di setiap rumah serta dia juga tidak menetap di satu tempat saja melainkan sering berpindah-pindah. Sebelum ia benar-benar pergi, ia mengatakan sesuatu kepada Hulga, dan akhirnya pergi meninggalkan Hulga sendirian disana.
"And I'll tell you another thing, Hulga,” he said, using the name as if he didn't think much of it, “you ain't so smart. I been believing in nothing ever since I was born!” and then the toast-colored
hat disappeared down the hole and the girl was left, sitting on the straw in the dusty sunlight." (O'Connor, 1955:16)
Lalu Mrs. Hopewell dan Mrs. Freeman yang sedang menanam bawang di ladang melihat laki-laki penjual al-kitab ini dan mengenalinya juga. Mrs. Hopewell mengira bahwa ia telah menjual al-kitab kepada orang Negro padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia telah menipu anaknya sendiri. Setelah melihatnya Mrs. Hopewell berpikir bahwa Manley Pointer adalah orang yang sedarhana.
“Why, that looks like that nice dull young man that tried to sell me a Bible yesterday,” Mrs. Hopewell said, squinting. “He must have been selling them to the Negroes back in there. He was so simple,” she said, “but I guess the world would be better off if we were all that simple.” (O'Connor, 1955:16)
lalu Mrs. Freeman juga menambahkan,
“Some can't be that simple,” she said. “I know I never could.” (O'Connor, 1955:16)
Dari akhir cerita yang terdapat dalam cerpen ini, cerpen ini memiliki close ending, karena sudah menemukan solusi dari konflik yang terjadi. Walaupun ending nya harus berakhir dengan ending yang kurang menyenangkan, tetapi konflik yang terjadi sudah menemukan penyelesaian nya sendiri. Makna dari akhir kata-kata Mrs. Hopewell dan Mrs. Freeman yaitu menjadi orang yang sempurna itu sulit untuk di raih dan mereka tidak mengetahui kebenaran tentang dunia yang ada di sekitar mereka, mereka berfikir bahwa Manley Pointer ini hanya orang biasa yang baik tetapi nyata nya ia menyembunyikan hal yang jahat di balik semua itu.
KONFLIK (CONFLICT)
- Man againts man
1) Pada konflik ini terjadi pertentangan sosial antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Konflik sosial yang terjadi yaitu antara Mrs. Hopewell dan putri nya Hulga, yaitu pada saat Mrs. Hopewell menginginkan seseorang untuk menemaninya berjalan-jalan di ladang, ketika Hulga di mintai bantuan untuk menemani ibu nya di ladang ia selalu memasang wajah yang muram seakan ia terpaksa melakukan nya, tetapi akhirnya Mrs. Hopewell memakluminya karena memikirkan kembali akan kondisi kaki nya,
her remarks were usually so ugly and her face so glum that Mrs. Hopewell would say, “If you can't come pleasantly, I don't want you at all,” to which the girl, standing square and rigid-shouldered with her neck thrust slightly forward, would reply, “If you want me, here I am – LIKE I AM.”
Mrs. Hopewell excused this attitude because of the leg (O'Connor, 1955:4)
2) Lalu selanjutnya, yaitu konflik antara Hulga dan Manley Pointer yang menjadi konflik inti dari cerpen ini sendiri. Dimana Hulga yang menyerahkan kaki palsu nya dan Manley Pointer yang berbohong padanya.
3) Hulga yang cara berpakaian nya seperti anak kecil walaupun ia telah dewasa, dan ini membuat Mrs.Hopewell melihatnya sebagai hal yang bodoh. Dan juga atas etika Hulga kepada ibunya sendiri.
Here she went about all day in a six-year-old skirt and a yellow sweat shirt with a faded cowboy on a horse embossed on it. She thought this was funny; Mrs. Hopewell thought it was idiotic and showed simply that she was still a child. She was brilliant but she didn't have a grain of sense. (O'Connor, 1955:5)
And she said such strange things! To her own mother she had said – without warning, without excuse, standing up in the middle of a meal with her face purple and her mouth half full (O'Connor, 1955:5)
- Man againts environment
TOKOH (CHARACTER)
- Hulga/Joy
- Manley Pointer
- Mrs. Hopewell
Mrs. Hopewell had no bad qualities of her own but she was able to use other people's in such a constructive way that she had kept them four years. (O'Connor, 1955:3)
Dimensi Sosiologi tokoh: Mrs. Hopewell adalah ibu dari Hulga dan seseorang yang mempunyai ladang.
Dimensi Fisiologis tokoh: Penulis tidak mendeskripsikan ciri-ciri fisik dari tokoh ini.
- Mrs. Freeman
...the nosiest woman ever to walk the earth. (O'Connor, 1955:3)
“Yes, most people is,” Mrs. Freeman said.
“It takes all kinds to make the world.”
“I always said it did myself.” (O'Connor, 1955:3)
- Glynese
- Carramae
|
PERANAN |
Tokoh utama: Hulga, Manley Pointer, Mrs. Hopewell
Tokoh tambahan: Mrs. Freeman, Carramae, Glynese |
|
FUNGSI TOKOH |
Protagonis: Hulga, Mrs. Hopewell, Mrs. Freeman, Carramae, Glynese
Antagonis: Manley Pointer
|
|
PERWATAKANNYA |
Tokoh sederhana: Mrs. Hopewell, Mrs. Freeman, Carramae, Glynese
Tokoh bulat: Hulga, Manley Pointer |
|
PERKEMBANGAN WATAK |
Tokoh Statis: Mrs. Hopewell, Mrs. Freeman, Carramae, Glynese
Tokoh berkembang: Hulga, Manley Pointer |
|
PENCERMINAN TOKOH |
Tokoh tipikal: Manley Pointer
Tokoh netral: Mrs. Hopewell, Mrs. Freeman, Carramae, Glynese, Hulga. |
- Latar tempat (seting of place)
- Latar waktu (setting of time)
- Latar ruangan (style of setting)
- Lumbung/gudang: Tempat dimana Hulga mengetahui kebohongan Manley Pointer dan tempat saat kaki palsu Hulga di lepaskan.
- Tema Utama (Mayor)
- Tema Tambahan (Minor)
- Kaki palsu: di simbolkan sebagai separuh jiwa dari Hulga.
- Koper: di simbolkan sebagai kemunafikan dan kebohongan.
- Warna Ungu: warna ini menyimbolkan kemarahan. Yaitu ketika Hulga membentak ibunya dan ketika Hulga membentak Manley Pointer.
you ever look inside and see what you are not? God!” (O'Connor, 1955:5)
- Manley Pointer: Simbol dari seorang pembohong.
- Hulga: Simbol dari seorang yang polos.
- Mrs. Hopewell: Simbol dari seorang yang mempunyai kebutaan moral.
- Tindakan Hulga yang memberikan kaki palsu nya kepada Manley Pointer: Simbol dari kepolosan dan kebodohan.
- Ironi Verbal (Verbal Irony)
“How old are you?” he asked softly.
She waited some time before she answered. Then in a flat voice she said, “Seventeen.” (O'Connor, 1955:10-11)
- Ironi Situasi (Irony of Situation)
She took it off for him and put it back on again and then he took it off himself, handling it as tenderly as if it were a real one. “See!” he said with a delighted child‖s face. “Now I can do it myself!” (O'Connor, 1955:15)
- Ironi Dramatis (Dramatic Irony)
- Cinta
“Yes,” she said and added (O'Connor, 1955:14)
- Sedih
“On no no!” she cried. “It joins on at the knee. Only at the knee. Why do you want
to see it?” (O'Connor, 1955:14)
- Takut
- Terkejut
- Marah
- Hubungan manusia dengan diri sendiri
- Hubungan manusia dengan orang lain
Komentar
Posting Komentar